Tampilkan postingan dengan label suku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label suku. Tampilkan semua postingan

Rabu, 23 Januari 2019

➤ Wisata Ke Suku Baduy Lebak Banten Abdi Desa

imageNih teman teman wisata yang rekomended jika berkunjung ke daerah Kabupaten Lebak Provinsi Banten. Pedalaman suku baduy yang kaya akan tradisi dan budaya.

Alam yang mempesona, asri tidak terjamah. Air sungai nan jernih, bahkan orang sana bisa langsung meminumnya.

Perlu diketahui teman-teman. Bahwa kampung baduy terbagi 2 bagian. Ada baduy dalam, kedua baduy luar.

Baduy Dalam adalah perkampungan yang masih memegang erat adat budaya leluhurnya, yang ditandai dengan baju berwarna putih. Hal ini menjadi tanda bahwa mereka masih suci dari nuansa kehidupan luar.

Saat ini Kampung Baduy Dalam terdapat 3 perkampungan. 3 kampung inilah yang paling terpelosok keberadaannya. Kurang lebih jarak antar kampung sekitar 1 Km.

Kedua, Kampung Baduy Luar yaitu perkampungan baduy yang sudah mengikuti perkembangan zaman. Banyak sekali kita jumpai di kampung baduy luar ini yang sudah menggunakan handphone, radio bahkan TV. Namun, walaupun begitu mereka tetap masih menghormati adat leluhur.

Perkampungan terluar adalah Kampung Ciboleger yang kini berubah menjadi terminal kampung Baduy. Jika ingin berkunjung ke Kampung Baduy, maka Terminal Ciboleger adalah gerbang utamanya.

Seperti cerita yang beredar, ada yang mengatakan bahwa mereka adalah titisan dari 10 pasukan penunggang kuda dari kerajaan siliwangi. Ada juga yang mengatakan, mereka adalah orang dari Kota Serang yang diusir oleh Sultan Hasanudin karena tidak mau masuk agama Islam.

Namun, ketika kami bertanya kepada salahsatu warga kampung baduy dalam, saat singgah di Kampung Cibeo (salah satu nama Kampung Baduy Dalam). Mereka bercerita bahwa mereka lari ke hutan pada saat penjajahan belanda. Mereka melanjutkan, bahwa lebih baik hidup terisolir asalkan merdeka. Dari pada mengikuti kerja paksa untuk pemerintahan belanda.

Hal ini jelas membantah cerita yang kami ketahui sebelumnya. Namun terlepas dari itu semua. Semua cerita yang berkembang memiliki sisi positif. Yang jelas kini ada perkampungan yang masih memegang erat budaya leluhur yaitu kampung baduy.

Teman teman yang ingin berkunjung ke tempat baduy. dari daerah Jakarta dan dari arah timur lainnya bisa naik KRL jurusan Rangkasbitung, kemudian naik Elp jurusan Ciboleger ongkos 20.000an.

Atau jika menggunakan bis kota nanti turun di terminal Mandala Rangkasbitung, tetap nanti naik elp juga dengan jurusan Ciboleger.

dari Kota Rangkasbitung ke Terminal Ciboleger kurang lebih menempuh 2 jam perjalanan. Sekarang jalan sudah diperbaiki oleh pemerintah daerah. Sehingga bisa datang ke tujuan lebih cepat.

Objek Wisata Potensial Kabupaten Lebak (Wisata Budaya Baduy dan Pantai Sawarna)


Source : https://www.abdidesa.com/2017/11/wisata-ke-suku-baduy-lebak-banten.html

Selasa, 22 Januari 2019

➤ Suku Baduy Bukan Orang Serang Pengasingan Sultan Hasanuddin Banten Wawancara Suku Baduy Dalam Abdi Desa

imageDari maraknya cerita yang beredar, penulis beserta teman2 lainnya berhasrat untuk mengungkap kebenaran cerita tersebut.

Namun sebenarnya hal tersebut bukanlah tujuan utama. Kami hanya ingin mengenal daerah suku baduy yang dianggap masih asri dan alami.

Pada tanggal 5 oktober 2016 lalu kami berangakt dari bojongmanik. Yang kebetulan ada teman akrab kami yang tinggal disana.

Jam 8 tepat kami sampai di terminal Ciboleger. Kami langsung takjub dengan keadaan panorama alam serta uniknya perkampungan baduy.

Dari jalan setapak yang disuguhi susunan batu tanpa pahatan serta jembatan gantung dari bambu dan akar pohon. Membuat perjalanan semakin menyenangkan.

Untuk menuju ke kampung baduy dalam memang cukup jauh. Kami harus melewati beberapa kampung baduy luar.

Menurut orang baduy setempat saat kami bertanya, kampung baduy dalam hanya ada 3 kampung. Paling dekat adalah kampung Cibeo.

Kampung Cibeo inilah yang sempat kami singgahi.

Sebenarnya kami ingin melanjutkan perjalanan sampai ke kampung yang paling dalam yaitu kampung CiKesik, namun waktu menunjukan sudah jam 3 sore. Sehingga kami memutuskan untuk tidak melanjutkan perjalanan.

Kesan pertama yang kami dapatkan adalah ternyata mereka senang dengan kehadiran pengunjung. Beberapa orang kampung dalam yang berpakaian putih langsung mempersilahkan kami untuk beristirahat di rumah mereka.

Bahkan diantara mereka yang masih membuat kerajinan tangan dari alam langsung menyodorkan kerajinan mereka untuk kami beli. Tentu saja kami antusias membelinya.

Sedikit kami berbincang dengan mereka. Dan menanyakan apakah benar mereka dulunya adalah orang Serang yang diusir oleh Sultan Hasanuddin. Atau memang penduduk yang berasal dari pasukan Siliwangi.

Mereka menjawab bahwa mereka tinggal di dalam hutan karena tidak mau kerja paksa pada saat penjajahan Belanda.

Satu-satunya jalan menurut mereka untuk menolak permintaan Belanda adalah dengan cara kabur ke dalam hutan sedalam-dalamnya, agar tidak ditemukan oleh Orang Belanda.

Dan ketika kami tanyakan kebenaran tentang 40 Keluarga saja yang hidup di Kampung Baduy Dalam.

Mereka menjawab, itu hanya untuk mengelabuhi Belanda. Mereka khawatir jika disampaikan informasi yang sebenarnya, perkampungan mereka akan dimusnahkan.

Dengan mengatakan hanya 40 Keluarga saja, sehingga orang luar atau Belanda pada saat itu yang sedang mencari orang pribumi untuk dijadikan pekerja paksa, tidak lagi berkeinginan untuk memperkerjakan mereka. Sebab jumlah yang sedikit.

Nah.. teman-teman ternyata dugaan kami salah selama ini yang beranggapan bahwa mereka adalah titisan Siliwangi atau orang-orang yang menolak Islam saat Sultan Hasanuddin berkuasa.

Mereka justru mengatakan dengan tegas mereka adalah warga sekitar yang dengan berani menerobos hutan rimba demi keberlangsungan hidup merdeka tanpa ada penjajahan.

Namun, jikapun benar apa yang beredar berita diluar tentang mereka. Maka kami mendapatkan informasi yang salah dari salahsatu Orang Baduy sendiri. Padahal kami percaya bahwa orang Baduy apalagi baduy Dalam sangat menjunjung Tinggi kejujuran. Wallahu a'lam.

Ceramah terbaru Abuya Uci | kisah Kewalian Syech Asnawi Caringin Banten


Source : https://www.abdidesa.com/2017/12/suku-baduy-bukan-orang-serang.html

Jumat, 04 Januari 2019

➥ Mengenal Suku Baduy Desa Kanekes Abdi Desa

Teman teman pasti pernah mendengar cerita tentang kampung adat di pedalaman daerah Kabupaten Lebak. Ya betul. Namanya suku Baduy.

Suku yang masih memegang erat adat istiadat leluhur atau biasa mereka mengatakan dalam istilah tali paranti karuhun. Berbeda halnya dengan masyaralat umum yang telah mengenal dunia modern serta pengaruh budaya yang datang dari luar.

Suku baduy sangat kuat memegang adat dan budaya mereka, sehingga mereka sampai saat tidak terpengaruh oleh budaya luar.

Suku baduy tepatnya berada di Desa Kanekes, salah satu dari 12 Desa yang ada di Kecamatan Lewidamar, Kabupaten Lebak. Jarak ke lokasi suku Baduy kurang lebih 17 km dari pusat pemerintahan Kecamatan Lewidamar, atau kira-kira 40 km dari Rangkasbitung, pusat pemerintahan Kabupaten Lebak.

imageDesa Kanekes luasnya 5.136 Ha terbagi ke dalam 66 kampung. Di kampung inilah mereka tinggal.

Suku baduy terbagi lagi ada yang disebut Tangtutelu, Panamping dan Mandala atau Leuweung Kolot.

Tangtutelu adalah Tanah suci bagi mereka, daerah sakral yang tidak sembarangan orang bisa datang kesana. Jumlah kampungnya hanya 3 yaitu: Cikeusik, Cikertawana, dan Cibeo. Masing masing kampung tersebut dipegang oleh Puun.

Adapun Panamping adalah Baduy luar, kurang lebih ada 63 kampung yang tersebar di area luar sekitaran Tangtutelu. Masing masing kampung dikokolotan oleh Jaro yang ditentukan oleh puun mereka.

Adapun nama kampung kampung tersebut adalah: Kaduketug 1, Cipondok, Kaduketug 2, Kadukaso, Cihulu, Kaduketug 3, Marenggo, Gajeboh, Cibalingbing, Cigula, Cikuya, Kadujangkung, Karahkal, Kadugede, Campaka, Kaduketer 1, Kaduketer 2, Cicatang 1, Cicatang 2, Cikopeng, Cibongkok, Sorokokod, Ciwaringin, Cibitung, Batara, Panyerangan, Kadukohak, Cisaban 1, Cisaban 2, Lewihandam, Ciranca Kondang, Kanengai, Cipicung, Cipaler Lebak, dan Cipaler Pasir.

Yang ketiga Mandala yaitu daerah yang jauh dari pusat tangtutelu tadi tetapi masih masuk ke dalam Desa Kanekes. Mandala atau hutan tua biasanya ditunggu dan dipelihara oleh orang yang digariskan oleh Puun. Yang ditunjuk untuk memelihara tanah buyut disebut jaro Dangka. Semuanya ada 6 tanah buyut, yaitu: Sindangnyair, Warega (Panungkulan), Sirah Dayeuh, Sanghiyang Asuh, dan Tanah Buyut Inggung.

Tatacara hidup suku Baduy masih kuat memegang adat istiadat nenek moyang mereka atau Karuhun. Mereka percaya bahwa kehidupan sebelum mereka tidak pernah berubah dan sama seperti apa yabg mereka lakukan saat ini.

Sehingga Orang orang suku Baduy merasa tidak perlu memiliki kemampuan untuk menulis atau membaca karena kehidupan mereka tersandar pada kehidupan nenek moyang mereka.

Adat dan kepercayaan mereka berdasarkan pada kepercayaan Adam Tunggal, yang secara lahir diwakili oleh Puun.

Puun memegang kekuasaan paling tinggi yang dibantu oleh Baresan, Tangkesan, dan Girang Seurat. Masing masing memiliki tugas, kebutuhan, serta kepentingan masyarakat suku Baduy.

Baresan sebagai pendamping Puun. Baresan terdiri dari beberapa kokolot atau sepuh yang dianggap tahu serta besar pengaruhnya. Mereka memiliki tugas untuk mendampingi Puun dalam upacara upacara adat dan penerimaan tamu. Baresan juga dianggap sesepuh yang bisa memimpin dalam menjalankan sistem sosial orang Baduy.

Adapun Tangkesan tugas lebih pada hal hal yang bersifat kegaiban. Tangkesan dianggap sesepuh yang mengetahui tentang perkara kegaiban. Beberapa tugas utamanya untuk meramal keadaan untuk kepentingan masyarakat, serta harus bisa mengobati berbagai penyakit dan menentukan kapan dan siapa pengganti Puun.

Dan Girang Seurat memiliki  tanggungjawab yang sangat besar yaitu selain penghubung komunikasi antara Puun dan jaro. Sesepuh ini harus memahami situasi dan kondisi masyarakatnya. Mereka yang mengatur segala tatalaksana adat suku Baduy. Mereka juga dianggap sebagai tangan kanannya Puun.

Sedangkan orang yang memiliki kekuasaan dalam bidang pemerintahan disebut Jaro Pamarentah. Dalam tugasnya Jaro pemerintah dibantu Carik, Pangiwa, Palawari dan sesepuh kampung, bertugas untuk menghubungkan antara kepentingan pemerintah dan aspirasi masyarakat yang dipimpinnya.

Orang baduy biasa mengadakan yang disebut kawalu. Yaitu waktu yang dianggap suci dan sakral. Puun mengadakan hubungan jeng Adam Tunggal. Tangkesan yang menentukan kapan kawulu darangnya. Di waktu tersebut. Suku baduy akan mengadakan hajat besar.

Oeang baduy memiliki anggapan bahwa tanah Kanekes adalah tanah keramat  yanh dititipkan Adam Tunggal. Untuk itu, mereka harus menjaganya dari hal hal yang bisa menyebabkan segala macam yang mereka pantang.

Itulah sekelumit info tentang suku Baduy yang ada di Desa Kanekes. Semoga banyak yang tertarik untuk datang mengunjungi Suku Badu ini. Semoga bermanfaat. Sumber: Taman Basa (Pangajaran Basa Sunda) lebak banten.

Ini Perbedaan Baduy Dalam dan Baduy Luar


Source : https://www.abdidesa.com/2019/05/mengenal-suku-baduy-desa-kanekes.html